Lumut Kerak – Klasifikasi, Manfaat, Gambar, Ciri dan Pengertian

Posted on

Kabarkan.com – Lumut kerak, juga dikenal sebagai lichen, adalah organisme kecil dan unik yang terdiri dari gabungan antara fungi (jamur) dan alga atau sianobakteri. Gabungan ini membentuk suatu simbiosis mutualisme, dimana kedua organisme saling menguntungkan satu sama lain dan membentuk suatu bentuk kehidupan yang unik.

Jenis lumut ini biasanya memiliki beragam bentuk dan warna, dan sering ditemukan di berbagai tempat seperti bebatuan, pohon, dinding, dan tanah. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang lumut kerak, mulai dari definisi, jenis-jenis, manfaat, serta bahayanya.

Mengenal Apa Itu Lumut Kerak (Linchen)

Definisi Lumut Kerak
Definisi Lumut Kerak

Lumut kerak adalah organisme kecil yang terdiri dari gabungan antara fungi dan alga atau sianobakteri. Gabungan ini membentuk suatu simbiosis mutualisme, dimana kedua organisme saling menguntungkan satu sama lain. Fungi memberikan tempat tinggal dan nutrisi untuk alga atau sianobakteri, sementara alga atau sianobakteri memberikan nutrisi untuk fungi. Kedua organisme ini saling melindungi satu sama lain dari lingkungan eksternal.

Inilah Jenis Jenis Lumut Kerak Yang Perlu Diketahui!

Inilah Jenis Jenis Lumut Kerak Yang Perlu Diketahui!
Inilah Jenis Jenis Lumut Kerak Yang Perlu Diketahui!

Lumut kerak adalah organisme kecil yang terdiri dari gabungan antara fungi dan alga atau sianobakteri. Jenis lumut kerak dapat dibedakan berdasarkan tipe fungi dan jenis alga atau sianobakteri yang terlibat dalam simbiosisnya. Berikut adalah beberapa jenis lumut kerak yang umum ditemukan:

1. Crustose

Jenis lumut kerak crustose memiliki bentuk yang menempel erat pada substratnya, seperti batu atau kulit kayu. Lumut kerak crustose umumnya memiliki tekstur yang kasar dan rapuh, dan terlihat seperti lapisan tipis yang menempel pada substratnya. Beberapa contoh jenis lumut kerak crustose adalah Cladonia, Caloplaca, dan Rinodina.

2. Foliose

Jenis lumut kerak foliose memiliki bentuk yang menyerupai dedaunan. Lumut kerak foliose terdiri dari sejumlah lapisan, dengan lapisan terluar yang berbentuk lempengan atau daun. Lumut kerak foliose umumnya tumbuh di tempat-tempat yang lembab, seperti pepohonan atau dinding batu. Beberapa contoh jenis lumut kerak foliose adalah Peltigera, Lobaria, dan Parmelia.

3. Fruticose

Jenis lumut kerak fruticose memiliki bentuk yang menyerupai semak atau keriting. Lumut kerak fruticose tumbuh seperti rambut dan dapat mencapai beberapa sentimeter dalam panjangnya. Lumut kerak fruticose umumnya tumbuh di tempat-tempat yang lembab dan bersinar matahari, seperti pohon dan batu besar. Beberapa contoh jenis lumut kerak fruticose adalah Usnea, Cladonia, dan Ramalina.

4. Squamulose

Jenis lumut kerak squamulose memiliki bentuk yang menyerupai sisik. Lumut kerak squamulose terdiri dari sejumlah lapisan dengan lapisan terluar yang berbentuk sisik. Lumut kerak squamulose umumnya tumbuh di tempat-tempat yang lembab dan terlindungi, seperti bawah rerumputan atau tanah. Beberapa contoh jenis lumut kerak squamulose adalah Cladonia, Umbilicaria, dan Rhizoplaca.

5. Gelatinous

Jenis lumut kerak gelatinous memiliki tekstur yang lembut dan menyerupai jelly. Lumut kerak gelatinous umumnya tumbuh di tempat-tempat yang lembab dan bersinar matahari, seperti kulit kayu atau bebatuan. Beberapa contoh jenis lumut kerak gelatinous adalah Collema, Leptogium, dan Dermatocarpon.

6. Filamentous

Jenis lumut kerak filamentous memiliki bentuk yang menyerupai rambut dan terdiri dari sejumlah benang halus. Lumut kerak filamentous umumnya tumbuh di tempat-tempat yang lembab, seperti tanah atau batu. Beberapa contoh jenis lumut kerak filamentous adalah Zygodon, Grimmia, dan Orthotrichum.

Baca Juga :  Taksonomi dan Tingkatannya

Inilah Manfaat Lumut Kerak Dalam Ekosistem

Inilah Manfaat Lumut Kerak Dalam Ekosistem
Inilah Manfaat Lumut Kerak Dalam Ekosistem

Lumut kerak merupakan organisme yang memiliki manfaat dan peran penting dalam ekosistem. Beberapa manfaat lumut kerak adalah sebagai berikut:

1. Menjaga kestabilan lingkungan

Lumut kerak dapat membantu menjaga kestabilan lingkungan dengan menahan tanah dan menyerap air hujan, sehingga dapat mengurangi erosi dan mempertahankan kualitas tanah. Selain itu, lumut kerak juga dapat menyerap polutan dari udara dan air, sehingga membantu menjaga kualitas lingkungan yang lebih baik.

2. Sebagai Sumber pangan

Beberapa jenis lumut kerak dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan manusia dan hewan. Contohnya, di beberapa negara, lumut kerak seperti Usnea digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan obat-obatan dan suplemen makanan karena memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi.

3. Sebagai indikator lingkungan

Lumut kerak dapat digunakan sebagai indikator lingkungan karena sensitifitasnya terhadap perubahan lingkungan. Beberapa jenis lumut kerak hanya tumbuh di lingkungan tertentu yang memiliki kondisi optimal bagi pertumbuhannya. Jika terdapat perubahan lingkungan yang signifikan, maka jenis lumut kerak tersebut mungkin akan hilang atau tergantikan oleh jenis lumut kerak yang lain. Oleh karena itu, penelitian tentang populasi dan distribusi lumut kerak dapat memberikan informasi penting tentang kondisi lingkungan.

4. Sebagai bahan baku industri

Beberapa jenis lumut kerak juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam industri tekstil, farmasi, kosmetik, dan bahan bakar. Contohnya, lumut kerak dari jenis lichen Cladonia rangiferina dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi pewarna biru alami.

5. Sebagai habitat dan sumber nutrisi bagi organisme lain

Lumut kerak juga dapat berfungsi sebagai habitat bagi organisme lain seperti serangga, siput, dan cacing tanah. Selain itu, lumut kerak juga dapat menyediakan nutrisi bagi hewan-hewan herbivora seperti kambing dan rusa.

Kesimpulannya, lumut kerak memiliki manfaat dan peran penting dalam ekosistem dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlindungan dan pengelolaan lumut kerak yang baik perlu dilakukan untuk memastikan keberlangsungan fungsi dan manfaatnya.

Klasifikasi Lumut Kerak

Klasifikasi Lumut Kerak
Klasifikasi Lumut Kerak

Lumut kerak atau crustose lichen adalah tumbuhan lumut yang memiliki tubuh yang melekat erat pada substrat, sehingga sulit untuk dipisahkan. Lumut ini terdiri dari dua jenis organisme, yaitu fungi dan alga atau sianobakteri, yang hidup secara simbiosis dalam satu tubuh.

Klasifikasi lumut ini juga dapat dilakukan berdasarkan berbagai karakteristik seperti bentuk tubuh, warna, dan jenis alga atau sianobakteri yang terlibat. Berdasarkan karakteristik tersebut, lumut kerak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain:

1. Kelompok Ascolichen

Ascolichen adalah lumut kerak yang alga atau sianobakterinya hidup bersama dengan fungi dalam struktur yang disebut apothecia. Apothecia merupakan struktur berbentuk cawan yang di dalamnya terdapat sel-sel reproduksi fungi yang disebut askus. Ascolichen dapat dibagi menjadi tiga subkelompok, yaitu:

  • Lecanoromycetes, seperti kelompok Lecanora dan Cladonia
  • Ostropomycetes, seperti kelompok Graphis dan Pertusaria
  • Arthoniomycetes, seperti kelompok Arthonia dan Opegrapha

2. Kelompok Basidiolichen

Basidiolichen adalah lumut yang alga atau sianobakterinya hidup bersama dengan fungi dalam struktur yang disebut teleutia atau sklerotium. Teleutia merupakan struktur yang menghasilkan spora basidium, sedangkan sklerotium adalah struktur yang terbentuk dari jaringan fungi yang padat. Basidiolichen tergolong langka dan hanya ditemukan pada beberapa jenis tumbuhan seperti kayu dan kulit kayu.

3. Kelompok Cyanolichen

Cyanolichen adalah lumut yang alga yang terlibat dalam simbiosis dengan fungi adalah sianobakteri. Cyanolichen biasanya memiliki warna biru-hijau karena pigmen fikosianin yang dihasilkan oleh sianobakteri. Beberapa kelompok Cyanolichen yang terkenal adalah Nostoc, Scytonema, dan Stigonema.

4. Kelompok Trentepohlioid Lichen

Trentepohlioid Lichen adalah lumut yang alga yang terlibat dalam simbiosis dengan fungi adalah Trentepohlia, yaitu kelompok ganggang hijau yang hidup di air tawar atau di atas tanah yang lembap. Trentepohlioid Lichen memiliki tubuh yang lembut dan warna yang beragam, seperti hijau, kuning, dan merah.

Klasifikasi lumut sangat penting dalam mengidentifikasi jenis-jenis lumut kerak dan mempelajari karakteristik serta perannya dalam ekosistem. Selain itu, klasifikasi juga dapat membantu dalam penelitian dan pengembangan pemanfaatan lumut ini untuk berbagai kepentingan, seperti dalam industri dan kesehatan.

Baca Juga :  Fungsi Kelenjar Cowper

Anatomi Lumut Kerak

Anatomi Lumut Kerak

Anatomi lumut ini atau crustose lichen mencakup struktur tubuh, jaringan, dan organ yang terlibat dalam hidupnya. Lumut kerak terdiri dari dua jenis organisme, yaitu fungi dan alga atau sianobakteri, yang hidup secara simbiosis dalam satu tubuh.

1. Struktur Tubuh

Struktur tubuh lumut ini terdiri dari thallus, yaitu tubuh utama yang menempel pada substrat dan tidak memiliki struktur yang terlihat seperti akar, daun, dan batang. Thallus lumut kerak memiliki berbagai bentuk, seperti bundar, lonjong, atau tidak beraturan, tergantung pada jenis fungi dan alga atau sianobakteri yang terlibat.

2. Jaringan

Jaringan lumut ini terdiri dari beberapa lapisan sel yang membentuk thallus. Lapisan terluar disebut korteks, yang berfungsi melindungi tubuh dari kekeringan dan cahaya yang berlebihan. Di bawah korteks terdapat lapisan medula, yang berisi jaringan fungi dan alga atau sianobakteri. Medula juga berfungsi untuk menyimpan air dan nutrisi.

3. Organ

Organ lumut ini terdiri dari apotekium atau apothecia, yaitu struktur berbentuk cawan yang terdapat pada beberapa jenis lumut kerak. Apotekium menghasilkan spora fungi yang disebut askus, yang dapat tersebar dan tumbuh menjadi individu baru.

4. Struktur Fungi

Struktur fungi pada lumut ini terdiri dari miselium, yaitu jaringan padat berbentuk serabut yang tumbuh di dalam medula. Miselium memiliki peran dalam menyerap nutrisi dan mengikat alga atau sianobakteri yang terlibat dalam simbiosis.

5. Struktur Alga atau Sianobakteri

Struktur alga atau sianobakteri pada lumut kerak terdiri dari sel-sel yang terdistribusi di dalam medula. Alga atau sianobakteri berperan dalam proses fotosintesis dan memberikan nutrisi untuk fungi.

Anatomi lumut kerak dapat bervariasi tergantung pada jenis fungi dan alga atau sianobakteri yang terlibat. Namun, struktur tubuh, jaringan, dan organ pada lumut ini umumnya terdiri dari korteks, medula, dan apotekium. Pengetahuan tentang anatomi lumut kerak penting dalam memahami cara hidup dan fungsi lumut kerak dalam ekosistem.

Inilah Dampak Lumut Kerak Bagi Kesehatan

Lumut kerak atau crustose lichen pada umumnya tidak berbahaya dan bahkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan manusia. Namun, ada beberapa jenis lumut kerak yang dapat menyebabkan kerusakan pada benda mati atau infrastruktur manusia, seperti:

1. Korosi pada Bangunan

Beberapa jenis lumut kerak dapat menyebabkan korosi pada permukaan batu, beton, dan logam. Lumut kerak yang tumbuh pada permukaan bangunan dapat menyerap air dan zat-zat kimia dari udara, sehingga dapat membentuk asam dan merusak permukaan bangunan secara perlahan-lahan.

2. Gangguan pada Jalan

Jenis Lumut ini apabila tumbuh pada permukaan yang ada disepanjang jalan dapat membuat jalan tersebut menjadi licin saat terkena air hujan atau embun. Hal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara kendaraan roda dua.

3. Pencemaran Lingkungan

Beberapa jenis lumut ini dapat menyerap polutan dari udara dan air, sehingga dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Namun, jika lumut kerak tumbuh pada daerah yang tercemar, seperti area industri atau pembuangan sampah, ia dapat menyerap polutan berbahaya dan membahayakan kesehatan manusia dan hewan.

4. Pengaruh pada Pertumbuhan Tanaman

Jenis lumut ini apabila tumbuh pada permukaan tanah atau batuan di dekat tanaman dapat berkompetisi dengan tanaman dalam mendapatkan nutrisi dan air. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan menyebabkan kerugian bagi petani atau pekebun.

5. Menimbulkan Alergi

Beberapa orang mungkin akan mengalami reaksi alergi jika terkena pleh jenis lumut linchen atau spora yang dihasilkannya. Gejala alergi yang mungkin yang biasanya sering terjadi pada manusia adalah ruam kulit, gatal-gatal, dan sesak napas.

Meskipun beberapa jenis ini dapat menyebabkan kerusakan atau bahaya, namun secara umum lumut kerak memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan manusia. Oleh karena itu, penanganan dan pengendalian lumut kerak harus dilakukan dengan bijak dan berkelanjutan.